Blogger Bertuah
Powered By Blogger
Facebook:Syaiful Gion

Jadwal Shalat Untuk Wilayah Pekanbaru

Sehitam Arang

Namanya Selasih, gadis sulung dari tiga bersaudara ini dalam karir pekerjaan memang sukses. Namun dalam bidang percintaan dewi amor ternyata tak selalu berpihak padanya. Masalah itu justru muncul dari dirinya sendiri, karena dia telah berjanji sejak awal bahwa dia memang belum mau bersentuhan dengan cinta karena harus berjuang menyelesaikan studi kedua adik perempuannya hingga meraih sarjana.

Nyatanya, setelah semuanya usai. Usia justru memojokkannya. Ketika umur itu beranjak senja, jodoh pun semakin menjauh. Hanya saja memang Tuhan masih berpihak kepadanya. Ada seorang lelaki bernama Iskandar menaruh hati. Pria yang baru saja dipindahkan dari Siak Sri Indrapura menempati Kepala Bagian disebuah perusahaan di mana Asih bekerja langsung saja terperangkap cinta terhadapAsih. Dan Iskandar tak bertepuk sebelahtangan. Asih menyambutnya dengan sukacita.
Namun, ketika asmara sedang bersemi Iskandar mengalami kecelakaan yang mengharuskan dirinya terpaksa beristirahat panjang. Untuk itu Iskandar kembali ke Siak . Hanya saja, kepergian Iskandar itu tanpa basa-basi terhadap Asih. Lelaki itu raib begitu saja tanpa memperhitungkan soal asmara mereka berdua.
Sebenarnya,Asih tak mempersoalkan begitu serius hengkangnya Iskandar balik ke kampung. Namun yang membuatnya kalangkabut, mendadak saja muncul sosok perempuan bernama Maharani yang meminta agar Asih tidak melanjutkan hubungan asmaranya dengan Iskandar. Asih merasa kehidupannya semakin diteror.Karenanya, Asih terpaksa harus mau menyelidiki ada apa sebenarnya dalam kehidupan Iskandar itu. Ketika Asih menjejaskan kakinya di Siak . Disinilah dia menghadapi hal-hal yang cukup menyiksa bathinnya.
***

Rasa was-was Selasih, kian meluncur laju mencapai ke pusat ubun-ubunnya. Tidak lagi permenit maupun perdetik. Tetapi sudah persaat ketika dia harus berhadapan lagi dengan cermin di depan ranjang di kamarnya. Dia memang sudah terlalu sering di ejek, ditertawai bahkan disindir benda kristal itu. Bahkan, bertahun lamanya. Tetapi sang cermin tak jua mau memberikan jawaban pasti menanggapi berbagai pengaduan yang acapkali di lontarkannya.

Rasanya ingin sekali diremukkannya cermin itu dengan genggaman jemari hingga hancur berkeping-keping. Hanya saja, mengapa benda yangsudah sekian tahun menghuni kamarnya itu selalu membisu sejuta kata. Tetapi rasa-rasanya pula dia bagaikan tak berdaya.Sebab, cermin itu telah dijadikan sahabat,teman karib bahkan kekasih tersayang.
Benda itu selalu jujur, lugu,polos bahkan tiada pernah sekalipun berdusta.
Ahhh,bagaimana teman seintim itu harus disakiti dengan membantingkannya ke lantai. Itu tidak mungkin. Jangan sampai terjadi. Tetapi, mengapa dia dibiarkan sepi sendiri. Jikapun merajuk,kenapa tidak dibujuk.
Selasih menghela nafas dalam.Pagi itu dia baru saja usai mandi dan duduk di depan kaca hias .Helaan nafas nya mendadak saja nyaris menyumbat ke lubuk hatinya yang paling mendasar. Saat itu, untuk kesekian kalinya dia mengadu. Mengapa muncul garis-garis kemerut dimuka.

Kenapa binar matanya kian memudar. Apa sebab bibirnya yang dulu sensual dan selalu dipuja-puji lelaki, mulai kering. Tak basah lagi. Mengapa dan kenapa
Bahkan yang paling tragis bulan depan dia akan berulang tahun ketiga puluh enam.
Duhhhh…!, semua sahabat seusia telah menikah. Ada yang punya anak tiga. Rini teman sebangku di sekolah SLTA saja sudah beranak lima. Pantaskah mereka di undang. Jika pun
tidak,alangkah indah dan bahagianya hanya berdua dengan sang kekasih. Tetapi, dimanakah si kekasih itu. Atau, dimanakah sang tunangan itu. Tidak, selingkarpun cincin belah rotan di jari manisnya.
Maknanya, dia masih sendiri. “ Kenapa aku masih sendiri. Mengapa, apakah aku tak cantik. Tak menarik.Tolong jawab.” Dia berdesis di depan cermin. Dan cermin yang tiada pernah berbohong itu seolah segera saja memberikan tanggapan. “ Asih, kau cantik. Kau anggung dan kau manis. “
“ Lalu…!!?? , mengapa aku masih terus perawan “ sergah Asih sambil berdesis. Ditatapnya dengan tajam pantulan cermin .Seolah dia mendapat jawaban spontan. Apa kata cermin. “ Persoalannya hanya sepele. Kau mau, orang tak hendak. Orangsuka, kau menolak. Kau ke hilir orang ke hulu.. “
Asih langsung saja menggebrak cermin dengan kepalan tinjunya. “ Kali ini kau salah. Kau tak jujur lagi bicara pada ku. Alasan mu itu aku tolak. “ Asih menggeram.Bibirnya komat-kamit. Wajahnya tegang dan menggeletar. Mendadak saja dia lemas. Ditujunya bibir ranjang dan terhempas duduk di situ.

Diremas-remasnya jemari yang saling terkait. Ujung-ujung jemari kaki menulis-nulis di lantai. Dia seperti merenung dan menghayal sendiri di situ. Susunan giginya yang bagaikan untaian mutiara itu sesekali gemeretak.
Dia mundur lagi setapak dan sekali lagi menghempaskan duduknya di tepi ranjang. Sesaat,dia tercenung panjang. Helai-helai anak rambut jatuh menjulur menggelantung diantara kening dan wajahnya.
Sejak ayah pensiun dari PNS tiga tahun lalu, dialah seterusnya sebagai penopang ekonomi di rumah itu.Sementara emak tidak punya kegiatan apa-apa. Bahkan, sudah sakit-sakitan. Emak mengidap penyakit darah tinggi.Tubuh emak pernah mati sebelah. Namun,sejak tiga bulan lalu mulai berangsur sembuh. Itupun, bibir dan tangannya masih terus menggeletar. Sekarang emak dalam taraf penyembuhan.
Untungnya dia bisa bekerja disebuah perusahaan swasta yang cukup maju. Dan masih untung lagi dia menyandang predikat sarjana,sehingga tingkat kedudukannya bisa lebih tinggi disesuaikan dengan disiplin ilmu yang disandangnya.

Yang membuat kondisinya kian sulit, kedua adik perempuannya walaupun juga sudah menyandang predikat sarjana ternyata masih menganggur. Usaha memang sudah dilakukan kesana-kemari. Tetapi tetap saja jeblok
Sehingga keduanya masih saja berharap dan penuh asa tetap inginkan santunan dari nya. Inilah mungkin salahsatu faktor mengapa dia terlambat menikah.
Karena, dulunya dia ingin menyekolah adik-adiknya terlebih dahulu. Sebab, jika dia buru-buru berumahtangga. Wahhh, nasib sekolah adik-adiknya bisa kacaubalau..Ayah, hanya pegawai rendahan. Untuk menguliahi dia saja dulu,nafas ayah sudah kembang-kempis dan empot-empotan.
Ketika ayah pensiun,kondisi kian sulit. Berapalah dana pensiun untuk menghidupi keluarga. Nah, setelah dia berhasil tungang-
langgang membiayai studi adik-adiknya, masih saja beban berat terpikul dipundaknya. Adik-adiknya itu justru masih sempoyongan mencari kerja.

Saat dia berusia muda, bukan tidak ada lelaki yang coba-coba melamarnya. Tidak sedikit, ada dari kalangan keluarga ,teman sekantor bahkan jodohan dari tetangga tempat dia tinggal yang justru prihatin melihat dia belum juga melepaskan masa lajang. Hanya soal itu ditampiknya, karena ketika itu dia memang ingin menyelesaikan sekolah adik-adiknya.
Sebab, jika dia buru-buru menikah bagaimana juga harus hengkang dari rumah mengukut suami.
Lalu, siapa kelak yang akan mengurus biaya mereka. Kalau emak, sudahlah. Uang pensiun ayah mampu mendukung biaya perobatan emak
Sekarang semuanya sudah usai. Beban tak lagi terpikul dipundaknya. Namun,ternyata persoalan belum usai. Hainun dan Halimah masih terbentur pekerjaan. Lalu sampai bila dia harus menunggu hingga keduanya mendapat pekerjaan,
Padahal menanti, mereka usai studi saja usianya yang menjadi taruhan. Sekarang menanti lagi. Ahhhh, akan berapa tahun pula lamanya. Apakah, sampai usianya renta.
Duhhh, jangan sampai tahun-tahun yang penuh ketidakpastian itu akan terulang lagi. Cukuplah sudah. Biarlah Hainun dan Halimah
mencoba untuk berdiri sendiri tanpa lagi harus ditopang.

Kebetulan ada teman sekantor bernama Iskandar yang baru sekitar empat bulan menempati jabatan di kantornya pindahan dari Kuansing . Sepertinya, lelaki yang jabatannya lebih tinggi sedikit dari kedudukannya di situ seperti ada perhatian terhadap dirinya.Faktor usia nampaknya agak berimbang dan sepadan,Iskandar juga seperti terlambat menikah. Orangnya cukup gagah bahkan teman-teman sekantor pun semua nyaris mendukung. “ Ini peluang dan kesempatan terakhir.
Kata orang, peluang hanya datang sekali. Tidak dua kali.Mumpung orang mau dan dia juga sepertinya suka. Harus
diterima,karena kali ini dia merasa tidak berlawanan arah.” Inlah bisik hati Asih sambil mengeluh panjang. Dia mendadak tersenyum simpul sendiri. Ke arah cermin,seperti ada cibiran mengejeknya pada pelataran cermin yang mengkristal itu.
Masih dengan handuk mendekap pangkal dadanya yang muda ranum serta rambut basah kuyup bagaikan dikeramas itu, dia seolah terpaku menatap bingkai wajahnya yang bulat telur. Ditatapnya pangkal dada sekuning dadu itu. Tampak masih kencang.
Lalu disapunya lembut dengan bedak sari wangi hingga menebarkan aroma gairah. Diraba dan ditelusurinya pula lekukan pinggul yang padu bagaikan bentuk sosok biola.
Perut jari telunjuk juga tak ketinggalan menyelusuri bibir yang masih sensual. Tidak kering, tetapi seolah berminyak. Juga hidung yang lancip halus. Ibarat bengkuang muda. “ Duh, rasa-rasanya aku masih cantik dan ayu.
Diangkatnya sebelah kaki menopang ke kaki sebelahnya lagi. Ujung handuk tersibak hingga belahan pangkal paha sekuning gading itu tersingkap. Sangkin mulusnya, paha itu tidak urung pula bagaikan tergurat garis-garis uratnya yang hijau membayang.
Hari itu, bahkan dalam minggu-minggu terakhir ini dia memang mencoba untuk berdandan habis-habisan agar tampak ayu dan cantik.Paling tidak, dia akan mencoba menampilkan gaya yang menarik di depan Iskandar yang menurut teman-teman sekantor sering pula memuji-muji kecantikan dan kemolekan tubuhnya.
Khabar itu harus ditanggapinya dengan lebih mempercantik diri lagi. Agar Iskandar semakin terpesona. Inilah sebentuk kesempatan dan peluang pertama Harus dimanfaatkannya sungguh-sungguh. Jangan sempat Iskandar berpaling pada yang lain. Karena,dia sendiripun rasanya sudah jatuh cinta.
Apalagi, ada beberapa teman sekantor yang menurut pandangannya seperti ingin juga menaksir. Sebut saja, Yanti, Emelia dan Ratna. Hanya saja, sampai sejauh itu,Iskandar masih berat ke dirinya.

Karenanya dia harus sigap. Jangan beri peluang pada ketiga wanita sekantornya itu. Kalau lalai, bisa-bisa dia akan karam lagi. Dikenakannya seragam kantor yang agak sempit dan ketat membungkus lekuk-lekuk tubuh,hingga nyaris begitu lengket.Seolah seragam itu menempel tanpa renggang seinci pun. Apalagi, rok spant yang melekat menungkup pinggulnya begitu ketat, hingga pinggul itu bagiakan beriak dan bergelombang jika dibawa melenggang.

“ Ehhh…,mengapa kamu tertawa . Apakah, tidak mendukung sikap ku mengenakan pakaian ketat seperti ini.” Asih menghardik cermin dan melototkan biji matanya yang bagaikan gundu itu. Dijulurkannya lidah Suara dering telepon di ruang tengah menyentakkannya. Sambil merapikan ujung dibelahan telinga dia bergegas menghampiri.Ditangkupnya gagang telepon.
“Siapa…? “ sambutnya
“ Ini Soraya.Kau pula yang cepatlah melupakan teman sekantor “ terdengar suara Soraya dari seberang
“ Hah, ada apa Aya, pagi-pagi begini menelponku. “ senang juga hati Asih mendapat telepon dari Soraya yang banyak tahu tentang dia dan Iskandar.
“ Jangan dulu kau beranjak ke kantor.” Kata Soraya
“ Kenapa..? “
“Kemarin si Iskandar mengatakan kalau pagi ini dia berencana ke rumah kau untuk menjemput. Nanti,bisalah kalian bersama-sama ke kantor. Tentu, sekalian pulangnya. Nah, kau harus serius Asih. Ini peluang, jangan di tolak lagi.” Ujar Soraya dengan suara agak ditekan.

“ Iya kah “ dada Asih mendadak saja bergemuruh.Menggelegak. Dan seolah meletup
“Eh, iyalah.”

“Baiklah kalau begitu. Aku menunggunya “ Asih meletakkan gagang telepon. Nuraninya mendadak berbunga-bunga. Siapa sangka berandai-andainya selama ini bisa menjadi kenyataan. Dia buru-buru lagi menuju cermis hias.
“Nah, apa aku bilang. Jangan kau kira aku menebak-nebak bayangan saja. Kau dengar tadi, Soraya meneleponaku yang memberi khabar kalau Iskandar akan menjemput aku pagi ini. Hahh..!, sekarangkau mau bilang apa lagi. “ Asih menekan pelataran cermin dengan ujung jari telunjuk. Persis di puncak hidungnya
Dan Waktu merayap terus. Nyaris tigapuluh menit dia menunggu, menanti dan berharap. Suara telepon berdering lagi. Cepat di burunya ke sana.
“ Dengan siapa “ tanya setelah gagang telepon nempel lagi ditelinga.

“ Soraya lah, siapa lagi. “
“ Eh, bagaimana ini Aya. Kau buat aku terpacak ber jam-jam di rumah. Sepertinya, kau hanya ingin mempermainkan aku tidak..? “ Asih nampak tegang. Sesaat tidak ada jawaban dari Soraya di seberang.
“ Aya, mengapa kau diam.Jangan main-main lah.Tidak baik begitu. “ sergah Asih lagi. Nafasnya kian sesak, karena Soraya langsung membisu dan tak berkata sepatah pun.
“ Apa-apa-an ini Aya “ Asih seperti mengancam. Dia mendadak marah besar pada Aya yang seolah sedang mengibulinya.
“ Iskandar tidak akan pernah muncul lagi ke rumah mu maupun ke kantor “ kata Aya dengan tekanan suara agak berat.
“Nah, kan betul . Kau hanya ingin memperolok-olokkan aku. Bagaimana bisa si Iskandar itu lebih dekat dengan mu ketimbang aku. Padahal, dia sedang menaksir ku “ ucapan Asih meledak-ledak. Dia kesal betul karena merasa dipermainkan Soraya.
“ Asih, Iskandar mengalami kecelakaan di ujung persimpangan jalan Sudirman ketika sedang menuju ke rumah mu. Sekarang dia di rumah sakit “ suara Aya terdengar serak.

Gagang telepon yang digenggam Asih mendadak mau terlepas. Jemarinya menggeletar.Tubuhnya mendadak hoyong. Lututnya pun terasa ngilu dan lantai yang dipijaknya bagaikan amblas.\
“Tetapi, kenapa kau sebutkan dia tidak akan pernah datang lagi. Padahal kan ini hanya sebuah kecelakaan. Dan masih bisa sembuh.” Bibir Asih menggeletar hebat. Jantungnya seolah ingin copot.
Disaat jiwa dan nurani sedang berbunga-bunga terhadap seorang lelaki yang selama ini justru tak pernah digapai maupun diraihnya, justru sang lelaki di khabarkan kecelakaan.
“ Aku sekarang berada di rumah sakit. Cepatlah datang., Kondisinya semakin kritis.” Suara Aya bagaikan mendesak.
“Iya…, aku segera datang. Di rumah Sakit Umum kan . “ ucap Asih sembari menghentakkan gagang telepon. Sebentar dia menghempaskan duduk di kursi. Dia bagaikan panik dan kehilangan akal. Dia bagai hoyong, tatapannya berbinar. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya terkatupkatup dan sesekali menggeletar dengan hebat.
Dia bergegas bagaikan berlari kecil ke kamar. Dengan tubuh tegang dia tegak di depan cermin. Wajahnya yang penuh hampa dengan pandangan kosong itu seolah-olah melekat ke bingkai cermin.
“ Kau memang jujur. Kau juga tak pernah berbohong. Kau lugu.tetapi kali ini kau tunjukkan kekejaman mu pada ku.” Cermin itu ditubruknya dengan kepalan tinju hingga pecah berderai. Ujung-ujung tangannya luka berdarah. Dia meringis kesakitan.

Bersambung....

"
Cerita ini haya fikif belaka"

0 komentar:

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA DI NGEFUL.BLOGSPOT.COM;  * SEMOGA BERMAMFAAT;  *